Minggu, 18 Maret 2012

BUKU TAJWID LENGKAP

Profil pondok pesantren kyai mojo
A. Pendahuluan
Kyai mojo termasuk salah satu dari sekian pondok yang ada di jombang yang bisa dikatakan baru berdiri atau baru. Baru ini begitu semerbak di telinga kita. Di jombang , khususnya di Tambak beras terdapat ±31 pondok yang menyatu dengan satu yayasan podok pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambak beras jombang. Semua berinisial sudah bertahun – tahun berdiri dan exist di tambak beras. Di sebelah utara Tambak beras di petengan tembelang jombang yang ditengarai kemajuan iptek berdirilah pondok pesantren Kyai Mojo.
Beberapa upaya dilakukan untuk meng – existkan nama Kyai Mojo salah satu diantaranya Kyai Mojo menerapkan tiga pokok dasar yaitu
1) Ibadah
Santri Kyai Mojo, modal pertama yang harus ditanamkan pada pribadinya adalah ubudiyah dengan progam yang ada dan dijalankan di Kyai Mojo seperti wiridan, Asyfa’, wiridan estafet, shalat malam, dan lain sebagainya.
2) Belajar mengajar
Sesuai dengan pendidikan – pendidikan yang lain, baik formal maupun non formal, Kyai Mojo juga tidak meninggalkan aktifitas belajar mengajar. Hampir tiap usai jama’ah di Kyai Mojo ada Halaqah atau Majlis Ta’lim , seperti pengajian kitab kuning pagi, siang, sore, Diniyah, belajar bersama musyawarah dan lain – lain.
3) Bekerja
Santri – santri pada umumnya atau lebih khusus santri yang tidak mengikuti pendidikan formal (sekolah) telah disediakan area untuk melatih diri bekerja, beraktifitas dan mengembangkan kemahirannya mulai dari merawat kambing, ayam, burung, latihan tukang bangunan , membantu pak tukang, sampai pada merawat sawah sendiri.
Atas dasar itulah berkembang dan berjalan seiring dengan dinamika globalisasi dan kemajuan iptek serta budaya – budaya modern. Tidak mennggalkan kesalafiyahan dan prinsip – prinsip ahl sunnah wal – jama’ah juga tidakmau ketinggalan atas kemajuan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi).

B. Lokasi pondok pesantren Kyai Mojo
Kyai mojo memiliki dua lokasi yang agak berjauhan
1. Kyai Mojo selatan
Terletak di dusun Petengan (sebelah utara tambak beras) Jl. KH Wahab Chasbullah no.216 Desa Tambakrejo, kecamatan tembelang, kabupaten jombang, provinsi jawa timur, lebh tepet lagi 50 meter sebelah utara lapangan Untung Suropati Tambak beras jombang yang secara keseluruhan mempuyai area seluas 1. Untuk ndalem dan pondok putra 16x30meter2. Untuk pondok putri 5x25meter3. Untuk dapur dan kebun 17x25 meter di sebelah timur jalan raya.
2. Kyai Mojo utara
Terletak di Desa Tembelang, kecamatan Tembelang, kabupaten Jombang. Tepatnya ±300 meter sebelah barat pom bensin Tembelang Jombang. Yang mempuyai area seluas …… . disini tergokus pada anak – anak dlu’afa’ yang tidak mampu. Yang di existkan dengan wiridan dan bekerja (mergawa : red).

C. Latar belakang berdirinya Kyai Mojo
Sekitar tahun 1991 masehi. Di sebuah dusun kecil d tengah – tengah antar Tembelang dan Tambak beras. Tepatnya di petengan tembelang jombang dating seorang Kyai muda yang tampan dan gemilau pikirannya, beliau bernama kyai Imron jamil. Kedatangannya di desa itu semula ingin mencari rumah kontrakan sebagai tempat tinggal beliau sekaligus istri tercintanya (ibu nyai Hj Dra Titi Maryam ). Mengingat beliau baru saja usai merantau dan menuntut ilmu di KH Moh Jamaludin Ahmad tambak beras sekaligus lulusan pendidikan – pendidikan formal di Tambak beras seperti MIBU, MMABU, STITBU maka beliaupun tidak mau jauh – jauh dari Tambak beras. Pun juga beliau masih melanjutkan pendidikannya di STITBU.
Akhirnya beliau pun tinggal di rumah sebelah timur warung Mak Ti (sekarang). Selama ±2 tahun beliau tinggal disitu. Setelah itu beliaupun pindah dan ngekost di sebelah mushalah Authon petengan Jombang.
Di tempat itulah beliau mulai menampung anak – anak, dlu’afa’ dan teman – teman sederajatnya yang ingin sekaligus minatbelajar pada beliau.
Pada tahun 1994 beliau sudah memilih ±8 santri yang berasal dari berbagai daerah atau kota seperti Tuban, Lamongan, Blora, Tulung Agung, dan lain – lain. Santri – santri itu pun kebanyakan kuliah sekaligus ngawula (mengabdi) pada kyai Imron. Walaupun saat itu Kyai Imron juga belum memiliki rumah sendiri.
Awal yang cemerlang bagi sesosok kyai mudah yang pada saat tu juga masih mengajar di MAN dan pendidikan yang lain. Kyai Imron cenderung memliki pemikiran yang nyeleneh (aneh). Setiap apapun yang beliau hadapi, baik masalah, tantangn atau problem – problem kehidupan beliau lebih menitik beratkan pada solusi yang lebih menyendiri dan berliku, “Intine seng penting nyampe pada tujuane” begitu kata beliau.
Sebab itulah tak heran jika sosok kyai muda itu di idolakan oleh para muridnya juga para temannya, sehingga tak ayal makin lama santri dan peminat untuk belajar pada beliau.
Karena banyaknya santri yang berminat belajar padanya, beliaupun mempuyai niatan untuk membeli tanah sekaligus mendirikan rumah sendiri pada tahun 1997/1998 beliau mencari tanah kosong yang dijual. Singkat cerita beliau menemukan tanah yang berdiri rumah kosong, dan cenderung mistis.
Konon rumah tu sangat angker dan tak satu pun orang berani membelinya. Akhirnya Kyai Imron datang dan mengajukan diri untuk membeli tanah itu. Dengan biaya yang terjangkau Kyai Imron pun membeli tanah seluas 16x30m2 yang letaknya sebelah timur jalan raya KH Wahab Chasbullah tambak beras Jombang Lebih tepat lagi 50 M sebelah utara lapangan tambak beras.
Disitulah Kyai Imron membangun rumahnya (sampai sekarang masih seperti dulu) dan membayang semua santrinya ke rumah itu. Semakin lama para peminatnya sekaligus anak mudah yang ingn belajar padanya pun kan bertambah. Hal itu membuat beliau berfikir dan berniat mendirkan pondok/asrama. Beliaupun akhrnya sowan pada guru mursyidnya (KH Abdul Jalil Mustaqim) guru mursyid thorekot syadziliyah atas izin syeh Abdul Jalil akhirnya Kyai Imron membangun pondok Disisi kanan kiri rumahnya
Sampai tahun 1999 Kyai Imton sudah mempuyai ±20 santri. Ketika itu pondok itupun belum memilki nama tersendiri, hanya dikenal sebagai “pondoknya Kyai Imron”. Pada akhir tahun 1999 atas inisiatif dari KH Abdul Jalil Mustaqim pondok itu diberi nama “Kyai Mojo”.
Kyai Mojo diambil dari nama panglima perang, ahli strategi sekaligus orang kepercayaanpageran diponegoro. Dengan Tasyabbuh dan Tafaul pada nama pangeran Kyai Mojo. Kyai Jalil berharap kelak diakhir nanti para santri Kyai Mojo menjadi pemikir kondang, ahli strategi, kuat dan tangguh dalam menghadapi semua tantangan seperti pangeran Kyai Mojo.
Pangeran Kyai Mojo lahir pada tahun 1792 masehi dan wafat pada tahun 20 desember 1849. Beliau belajar ilmu agama di gading klaten dan belajar ilmu kanuragan di ponorogo. Nama aslinya adalah Imam Muslim Mohammad Kholifah. Beliau menjadi ulama’ dan mendirikan pesantren di desa Mojo sehingga masyhur dengan Kyai Mojo (kyai dari Mojo).
Dengan resminya nama pondok pesantren Kyai Mojo pada tahun 1999 tersebut mulailah semua santri, masyarakat dan para pendatang mengenal dan melekatkan nama Kyai Mojo sebagai nama pondok asuhan KH Imron Djamil

D. Manejemen pondok pesantren Kyai Mojo
1. Gambaran mekanisme pembelajaran
Bermula dari penampungan serta penerimaan para dlu’afa’ sekaligus teman – teman yang ingin belajar . Kyai Imron pun mulai mengakaji beberapa ilmu agama dan mengajar para santri dengan kajian nahwu, shorof, dan tafsir. Beliau membekali santri – santrinya dangan ilmu – ilmu itu hampir tiap usi jama’ah sholat beliau mengajar santrinya dengan sistem sima’I, karena saat itu belum ada papan tulis.
Sampai akhirnya mulai ada satu dua santri yang terlihat menonjol sehingga diutus (disuruh) nembantu mengajar.
Sampai saat ini system pembelajaran dan pengkajian di pondok pesantren Kyai Mojo masih exist seperti dulu. Tiap usai jamaah sholat lima waktu dibuka / didakan halaqoh dan majlis ta’lim.
A) Setelah sholat subuh :
 Setoran Al Qur’an
 Kajian kitab kuning
B) Setelah Sholat dhuhur
 Kajian kitab kuning (tafsir) oleh Kyai Haji Imron Jamil
C) Setelah sholat ashar
 Kajian kitab kuning
D) Setelah sholat magrib
 Kajian tajwid
 Kajian Al Qur’an
E) Setelah sholat isya’
 Diniyah
 Takroruddurus ( Belajar bersama)

2. Aktifitas keseharian Kyai Mojo
Sebagai lembaga non formal yang berstuktur dengan prosedur – prosedur yang valid, Kyai Mojo mempuyai rentetan kegiatan sebagai pelatihan santri menjalani kehidupan mendatang.


























BAB I
PENDAHULUAN
Sebelum kita berbicara lebih lanjut tentang ilmu tajwid terlebih dahulu dalam bab ini akan diuraikan mabadi’ ‘asyroh ( Poin-poin dasar ) ilmu tajwid.
1. حد ه (Ta’rif / Definisi ) :
Menurut bahasa : memperindah dan memadukan.
Menurut istilah : Ilmu ynag denganya bisa diketahui majhorijul huruf, sifat-sifat huruf yang ashli dan yang furu’ serta hukum-hukum dari huruf itu sendiri, seperti hukumnya nun, hukumnya mim, alif lam dan lain-lain .
2. موضو عه( sasaran / obyeknya )
Kalimat-kalimat Qur’ani dari berbagai segi pengucapan huruf-huruf lisan.
3. تمر ته ( فا ئدته ) ( faidahnya )
Lebih mendekatkan kebenaran dalam membaca Al-Qur’an. Yaitu dengan mengucapkan huruf-huruf itu dengan sempurna baik dari segi hukumnya dan sifatnya.
4. فضله ( Keutamaannya )
Keutamaan mempelajari ilmu tajwid sama seperti keutamaanya mempelajari al-Qur’an itu sendiri.
5. نسبته ( Penisbatan )
Penisbatanya adalah dari al-qur’an itu sendiri,karena maksud yang ditujukan pada al-Qur’an itu sendiri. Karena ilmu tajwid dengan al-Qur’an itu sendiri adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
6. وا ضعه ( Pembuat / pencipta / pencetus pertamakali )
Ilmu tajwid itu lahir bersamaan dengan turunya al-qur’an itu sendiri maka asal mula adanya ilmu tajwid adalah dari Allah dan Rosulullah sendiri,namun secara Qoidah-qoidahnya itu dilahirkan dan dicetuskan oleh imam-imam qurro’. Sehingga sampai sekarang kita kenal bacaan idghom,idhar,tafkhim dan tarqiq.
7. اسمه ( Nama fan tersebut )
Sama seperti nama permulaanya juga. Yaitu ilmu tajwid.
8. استمداده ( Pengambilan sumber-sumbernya )
Pengambilan sumbernya adalah dari al-Qur’an dan hadits itu sendiri.
9. حكمه ( Hukum mempelajarinya )
Fardlu kifayah dalam rangka memahami qoidah-qoidahnya.
Fardlu ain dalam rangka dalam rangka mengamalkanya ( dalam hal ini semua orang yang baca al-qur’an wajib mempelajari dan mengetahui ilmu tajwid )
10. مسائله ( Masalah-masalah yang dibicarakan )
Qodliyah-qodliyah/ Qoidah-qoidah yang bisa menyampaikan pengetahuan memahami dan memahami juz-juz dari hukum alqur’an itu sendiri.
Menurut bahasa tajwid berasal dari kata جود يجود تجويدا yang berarti التحسين" “ yaitu memperindah maksudnya adalah memperindah kata atua kalam. Secara istilah tajwid adalah ilmu yang denganya bisa diketahui makhorijul huruf, sifat-sifat huruf dan hukum-hukum huruf hijaiyyah. Mempelajari tajwid berhukum wajib. Karena dilihat dari keterkaitannya Al-Qur’an tidak bisa lepas dari tajwid.
Ulama’ berbeda pendapat tentang ilmu yang pertama kali wajib dipelajari oleh kaum muslimin. Sebagian ulama’ mengatakan bahwa ilmu yang wajib dipelajari pertama kali adalah ilmu kalam. Sebab dengan ilmu kalam bisa diketahui cara mengesakan tuhan ( Allah SWT ), mengetaui sifat-sifatNya, af’alNya dan dzat Nya. Sebagian yang lain mengatakan bahwa yang wajib dicari pertama kali adalah ilmu fiqih, karena dengan ilmu fiqih bisa diketaui cara-cara ibadah yang benar, bisa diketaui hukum-hukum islam, halal, harom dan bisa diketahui bagaimana berhubungan dengan sesama manusia di dunia ini sesuai dengan syariat islam. Dan sebagian yang lain mengatakan yang wajib dipelajari adalah Al-Qur’an dan Al-hadits. Di sini lah mengapa mempelajari ilmu tajwid berhukum wajib. Karena tanpa tajwid al-Qur’an tudak akan sepurna. Selain itu menurut imam al Ghozali ilmu itu hanya ada dua macam, yaitu ilmu syari’at dan ghoiru syariat. Ilmu syari’at adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh kaum muslimin dan yang bukan syariat sesuai dengan kebutuhan manusia.
Adapun ilmu syari’at itu ada empat macam :
1. Ilmu ushul ( ilmu pokok/dasar/inti )
Dalam hal ini meliputi 4 ilmu : Al-qu’an,hadits,ijma’ dan qiyas.
2. Ilmu furu’ ( ilmu cabang dari ilmu ushul )
Dalam hal ini meliputi : fiqih, tasawuf, akhalq dan ilmu tarbiyah.
3. Ilmu muqoddimah ( ilmu-ilmu pengantar untuk bisa memahami ilmu ushul dan ilmu furu’ ) dalam hal ini meliputi ilmu bahasa,ilmu nahwu,shorof balaghoh dan lain sebagainya.
4. Ilmu mutammimah ( ilmu pelengkap serta penyempurna bagi ilmu ushul dan furu’ untuk lebih bisa memahami dan memperdalam ilmu tersebut sesuai dengan yang dikehendaki oleh syari’at. Seperti ilmu tafsir, ilmu qur’an, ilmu tajwid dll.

Sedangkan ilmu yang bukan syari’at oleh imam al-Ghozali dibagi menjadi tiga criteria :
1. Ilmu mahmudah ( yaitu ilmu yang bukan tuntunan syari’at tapi mempelajarinya berhukum baik dan terpuji. Hal ini seperti mempelajari ilmu kedokteran, ilmu berhitung ilmu bisnis dan lain-lain
2. Ilmu mubahah ( yaitu imlu yan mempelajarinya berhukum jaiz / boleh ) seperti : ilmu
3. Ilmu madzmumah ( yaitu ilmu yang dicela oleh syari’at seperti ilmu santet, ilmu dukun, ilmu filsafat dan dan ilmu nujum.
Dari penjelasan di atas bisa diketahui bahwa letak ilmu tajwid adalah setara dengan wajibnya mempelajari alQur’an karena tanpa ilmu tajwid kita tidak akan bisa membaca al Qur’an dengan baik.
BAB II
HUKUM NUN MATI DAN TANWIN
Dalam kitab “ Al wajiz fi ‘ilmi at-tajwid “ dijelaskan bahwa Pengertian Nun mati adalah :
“ النون الساكنة: هي التي لا حركة “
Sedangkan tanwin adalah :
“والتنوين: هو نون ساكنة زائدة تلحق آخر الاسم لفظا، وتفارقه خطا ووقفاً “
Dalam bahasan ilmu tajwid, Jika ada nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf hijaiyah yang jumlahnya ada 28 maka mempunyai empat hukum.
1. Idhar ( اظها ر )
Idhar menurut arti bahasa bermakna al bayan yaitu jelas, sedang menurut istilah adalah “إخراج كل حرف من مخرجه من غير غنة في الحرف المظهر “ yaitu mengeluarkan tiap-tiap huruf dari makhrojnya dengan tanpa ghunnah( dengung ) dengan kata lain, Idhar adalah jelasnya suara nun mati atau tanwin ketika bertemu dengan huruf-huruf tertentu ( huruf halaq).
Huruf halaq ada enam : الهمزة، والهاء، والعين، والحاء، والغين، والخاء seperti dalam syair :
فالأولُ الإظهارُ قَبْلَ أحرفِ # للحلق ستٌّ رُتِّبَتْ فَلْتُعْرَفِ
همزٌ فهاءٌ ثم عينٌ حاءُ # مُهْمَلَتَانِ ثم غَيٌْن خَاءُ
Cara membaca bacaan Idhar :
1. Nun mati dan tanwin tersebut dibaca jelas tanpa berdengung.
2. Dalam hal baca tidak boleh adanya waqof atau berhenti atau terputus agak lama.
3. Dalam melafadhkan Nun mati atau tanwin tersebut tidak boleh terlalu lama sehingga bisa memunculkan bacaan ghunnah.
4. Tidak boleh terlalu dalam membaca idhar dikhawatirkan huruf atau harokat lain.
Contoh Dalam kalimat :
a. yang berbentuk tanwin :
- إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
- إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
- وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ
- سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
- فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
- فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

b. berbentuk Nun Mati :
- صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
- إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
- قُلْ مَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ
- فَمِنْهُمْ مَنْ آَمَنَ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ صَدَّ عَنْهُ
- وَتَرَى الْمَلَائِكَةَ حَافِّينَ مِنْ حَوْلِ الْعَرْشِ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ
- وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي

2. Idgom( ادغا م )
Idghom menurut bahasa berasal dari kata “ adghoma yudghimu idghooman “ yang mempunyai arti “ idkhol “ memasukkan. Sedang Menurut istilah adalah
“التقاء حرف ساكن بحرف متحرك بحيث يصيران حرفاً واحدا مشدداً “ yaitu memasukkan huruf yang pertama ( huruf mati/sukun) ke dalam huruf yang kedua ( huruf hidup ) sehingga menjadi satu kesatuan huruf dengan cara ditasydid. Dengan kata lain Idghom adalah memasukkan suara nun mati atau tanwin pada huruf setelahnya yang ada enam macam yang terkumpul dalam lafadh يرملون yaitu “الياء، والراء، والميم، واللام، والواو، والنون “ sehingga seolah-olah suara Nun / tanwin hilang atau menyatu dengan huruf setelahnya.
Idghom terbagi menjadi menjadi dua macam :
a). Idghom bi ghunnah
Yaitu masuknya suara nun mati dan tanwin pada huruf setelahnya dengan disertai mendengung. Huruf-huruf idghom bighunna ada empat yang terkumpul dalam lafadh ينمو ( ( و م ن ي.
Cara membaca bacaan Idghom bighunnah :
1. Nun mati dan tanwin tersebut dimasukkan kedalam huruf setelahnya sehingga seolah-olah suara Nun atau tanwin tersebut tidak tampak.
2. Suara tersebut didengungkan
3. Suara tersebut ditekan atau ditahan kira-kira 1 alif atau 2 harokat.
Contoh bentuk tanwin :
- وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
- إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا
- يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
Contoh bentuk Nun mati :
- لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
- فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
- أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى
- وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Catatan :
- ketentuan di atas berlaku jika nun mati dan tanwin bertemu dengan huruf-hurufnya dalam dua kalimat. Jika dalam satu kalimat maka dibaca “ Idhar “
Contoh :
- د نيا , صنوا ن , قنوا ن

b). Idghom bila ghunnah
yaitu masuknya suara nun mati dan tanwin pada huruf setelahnya dengan tanpa disertai mendengung. Artinya hanya sekedar memasukkan suara nun mati dan tanwin tersebut pada huruf setelahnya. Huruf-huruf idghom bighunnah ada dua macam: yaitu lam dan ro ( ل ر )
Cara membaca bacaan Idghom bila ghunnah :
1. Nun mati atau tanwin dimasukan pada huruf setelahnya, sehingga seolah-olah suara nun atau tanwin hilang.
2. Dalam membaca Tidak ada tekanan tertentu.
3. Tidak boleh terlalu lama dalam membacanya.
4. Tidak boleh ada dengungan yang seolah memantulkan suara huruf atau harokat lain.

Contoh yang bertbentuk tanwin :
- فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ
- قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي
Contoh Yang berbentuk Nun mati :
- أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ
- مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

3. Iqlab ( اقلا ب )
Menurut bahasa iqlab berasal dari kata “ aqlaba yuqlibu iqlaaban “ yang berarti “ at tahwil “ mengganti. Sedang menurut istilah adalah
جعل حرف مكان آخر، أي: قلب النون الساكنة والتنوين ميما قبل الباء مع مراعاة الإخفاء والغنة
Yaitu menjadikan satu huruf pada tempat atau dasar yang lain. Dengan kata lain Iqlab adalah mengganti suara nun mati atau tanwin dengan suara mim dengan disertai adanya dengung.
Huruf bacaan iqlab ada 1 yaitu ba’ ( ب )
Cara membaca bacaan iqlab :
1. Suara Nun mati atau tanwin tersebut diganti dengan Mim
2. Disertai dengan mendengung
3. Disertai dengan tekanan kira-kira 1 alif atau 2 harokat

- Contoh tanwin bertemu Ba’
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ
- Contoh Nun bertemu ba’
- وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى قَوْمِهِ مِنْ بَعْدِه

4. Ikhfa ( اخفا ء )
Menurut bahasa ikhfa’ berasal dari kata akhfa yukhfi ikhfaa-an yang mempunya arti menyamarkan atau samar. Sedang menurut istilah adalah
“النطق بالحرف بصفة بين الإظهار والإدغام عاريا عن التشديد مع بقاء الغنة في الحرف الأول “ yaitu mengucapkanya suatu huruf dengan satu sifat antara idhar dan idghom yang sunyi dari tasydid namun seolah-olah disertai dengan tetapnya nghunnah. Dengan kata lain Ikhfa’ adalah menyamarkan suara nun mati dan tanwin( antara idhar dan idghom) ketika bertemu dengan huruf-hurufnya.
Huruf-huruf Ikhfa’ ada 15. Yang terkumppul dalam lafadh :
صف ذا ثنا ك�$85 جاد شخصٌ قد سما # دم طيبًا زد في تقى ضع ظالما
- Cara membaca Bacaan ikfa’ ;
1. Suara Nun mati atau tanwin disamarkan ( artinya samar antara jelas dan mendengung )
2. Disertai dengung.
3. Disertai tekanan sekitar 1 alif atau 2 harokat.

Contoh :
عَمَلا صَالِحًا تنوين - ص فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ن - ص
وَلَهُمْ عَلَيَّ ذَنْبٌ فَأَخَافُ تنوين - ف وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ ن - ف
سِرَاعًا ذَلِكَ تنوين - ذِ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ ن - ذِ
- فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ تنوين - ث فَجَعَلَ مِنْهُ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنْثَى ن – ث
وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا تنوين - ك قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ ن - ك
صَبْرًا جَمِيلا تنوين - ج وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوهُهُمْ ن – ج
وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ تنوين - د وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ ن – د
فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا تنوين - ش مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ ن – ش
سَلامًا سَلامًا تنوين - س ) وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ ن – س
إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ تنوين - ق وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ ن – ق
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا تنوين - ط هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ طِينٍ ثُمَّ قَضَى أَجَلًا ن – ط
وَنَحْشُرُ الْمُجْرِمِينَ يَوْمَئِذٍ زُرْقًا تنوين - ز وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ن – ز
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا تنوين - ت لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا ن - ت
تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى تنوين - ض لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ ن - ض
ظِلا ظَلِيلا تنوين - ظ وَمَا يَنْظُرُ هَؤُلَاءِ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَا ن – ظ

- Keterangan :
Dalam membaca bacaan Ikhfa’ ada beberapa perbedaan diantara satu huruf dengan huruf yang lain. Dlam kitab “ al-Wajiz “ dijelaskan ada tiga tingkatan dalam membaca Ikhfa’ :
a. Tingkatan yang paling tinggi ke-Ikhfa’anya, yaitu ketika Nun mati/ tanwin bertemu dengan الطاء والدال والتاء seperti Contoh :
- جَنَّاتٍ تَ�$ACْرِي - مُنتَهُونَ
- صَعِيدًا طَيِّبًا - يَنطِقُونَ
- أَندَادًا - عَمَلا دُونَ ذَلِكَ
b. Tingkatan Paling rendah Ke-Ikhfa’anya, Yaitu ketika nun mati/tanwin bertemu dengan القاف والكاف
Contoh : نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ, يَنقَلِبُ, عَلِيمًا قَدِيرًا
c. Tingakatan Sedang ( tawassuth), yaitu ketika nun mati/tanwin bertemu dengan huruf-huruf selain kelima huruf di atas.
Contoh : غَفُورٌ شَكُورٌ, مُنذِرٌ , مَنْصُورًا , أَنزَلْنَاهُ Dan lain-lain
5. Kesimpulan
Dari penjelasa di atas kita bisa gambarkan dengan diagram berikut :


BAB III
GHUNNAH

Berbicara Nggunnah tidak akan terlepas dari bahasan Tasydid/Syiddah. Huruf yang bertasydid itu terbagi menjadi dua :
1. مُشَدَّدَة بِغُنَّة(huruf yang bersyiddah dengan disertai Ghunnah)
Artinya perpaduan antar dua huruf yang sama yang pertama mati/disukun dan yang kedua berharokat kemudian ditulis menjadi satu huruf dan disertai Ghunnah/ berdengung dalam membacanya. Huruf-hurufnya ada dua yaitu “ mim dan nun “
Contoh :
- قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
- وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
2. مُشَدَّدَة بِغَيْرِ غُنَّة ( Huruf yang bersyiddah dengan tanpa ghunnah)
Artinya perpaduan dua huruf yang sama yang pertama mati/disukun dan yang kedua berharokat kemudian ditulis menjadi satu huruf namun tidak dibarengi Ghunnah atau berdengung dalam membacanya. Dalam hal ini huruf-hurufnya adalah semua huruf hijaiyah yang bersyiddah selain “mim dan nun”
Contoh : التَّائِبُون ، الرَّحْمَن ، الحَقُّ ، أَضَلُّ
Dalam pembahasan Ghunnah ada beberapa macam bacaan dan tingkatan-tingkatannya, diantaranya adalah :
1. Tingkatan paling tinggi,
Dalam hal ini adalah ketika “ nun dan mim” bersyiddah. Kadar ghunnahnya adalah 2 harokat/2 ketukan. Contoh : عَمَّ ، الطَّامَّة ، إِنَّ
2. Tingkatan dibawahnya,
Dalam tingkatan ini adalah bacaan Ghunnah ketika “nun mati/tanwin” bertemu “wawu dan ya’ “. Kadar Ghunnahnya adalah 2 harokat, sama sperti pada tingkatan pertama akan tetapi dalam tingkatan ini agak lebih jelas.
Contoh : وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ , نَعِيمًا وَمُلْكًا
3. Tingkatan pada bacaan Ikhfa’ dan Iqlab
Kadar Ghunnah dalam tingkatan ini juga sama 2 harokatnya namun masih dibawah urutan no.2 di atas.
4. Tingkatan pada Idharnya “nun dan mim” yang bersukun
Ukurang Ghunnahnya adalah 1 harokat/ 1 ketukan. Contoh :
- صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
- إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ
5. Tingkatan Ghunnah yang paling rendah
Yaitu pada huruf ‘nun dan mim” ketika berharokat. Kadarnya adalah sama dengan bacaan huruf-huruf yang lain yaitu 1 harokat Contoh : قَالُوا يَا أَبَانَا مَالَكَ
BAB IV
HUKUM MIM MATI
Dalam ilmu al-Qur’an dijelaskan berbagai pengertian tentang huruf huruf hijaiyah serta fungsi dan macam-macamnya baik itu berkaitan dengan ilmu shorof, ilmu nahwu atau dalam ilmu yang lain. Dalam cabang ilmu tajwid ini kita dihadapkan dengan salah satu bahasan tentang huruf yaitu huruf mim. Dalam ilmu tajwid ini mim mempunyai tiga hukum, yaitu : Dihukumi Idhar syafawi, Dihukumi Ikhfa’ sayfawi, Idghom mitsli atau biasa dikenal dengan idghom mimi.
1. Idhar syafawi
Menurut asal kata Idhar berasal dari kata Dhoharo, kemudian proses perubahan wazan menjadi “adharo – yudhiru – idhaaron “ yang berarti menjelaskan / menampakan. sedangkan kata Syafawi adalah sebuah penisbatan atau pembangsaan atau bisa disebut pengklasifikasian. Artinya Syafawi adalah penisbatan terhadap huruf-huruf bibir ( Makhroj Syafatani ). Jadi Idhar Syafawi adalah Kejelasan atau tampaknya suara huruf yang bernisbatkan anggota bibir ( Mim ) ketika bertemu dengan sebagian dari huruf hijaiyah. Dalam kitab “Ahkamu at-tajwid” dijelaskan lebih simple lagi, disana dikatakan bahwa Idhar Syafawi adalah :
الإظهار الشفوي هو إخراج الميم الساكنة من مَخْرَجِهَا بدون غُنَّة
Yaitu Mengucapkan atau Mengeluarkan huruf mim yamg bersukun dari makhrojnya dengan tanpa Ghunnah. Huruf-huruf bacaan Idhar Syafawi adalah semua huruf hijaiyah selain‘” ba’ dan mim “
- Cara Membaca bacaan Idhar syafawi :
1. Suara mim mati dibaca jelas
2. Tidak mendengung
3. Tidak adanya tekanan.

Contoh :
- إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ
- وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
- فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ
- فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
- ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
- إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ خَامِدُونَ
- عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
- أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا
- إِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ
- فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ
- وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا
- بِضُرٍّ لَا تُغْنِ عَنِّي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا وَلَا يُنْقِذُونِ
- حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ
- هم ضا لو ن
- وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ مِنْكُمْ طَوْلًا أَنْ يَنْكِحَ الْمُحْصَنَاتِ
- قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ
- فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ غَيْرُ مُعْجِزِي اللَّهِ
- لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ آَبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ
- ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْلَمُونَ
- وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ
- قَالُوا رَبُّنَا يَعْلَمُ إِنَّا إِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُونَ
- فَأَنْذَرْتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى
- فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا
- قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ
- مَا يَنْظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ

2. Ikhfa’ Syafawi
Sama seperti Idhar Syafawi, Ikhfa’ syafawi juga penisbatan terhadap huruf bibir ( mim ) akan tetapi perbedaanya adalah bahwa Ikhfa’ mempunyai arti menyamarkan, sehingga bisa diartikan bahwa Ikhfa’ Syafawi adalah Menyamarkan suara mim mati tersebut ketika bertemu dengan huruf tertentu. Dalam hal ini adalah huruf Ba’. Atau dalam keterangan lain dikatakan
الإخفاء الشفوي هو النُطِقُ بالميم الساكنة على صِفَة بين الإظهار والإدغام ، مع مراعاة الغُنَّة وعدم التشديد
- Cara membaca bacaan Ikhfa’ syafawi :
1. Suara mim mati disamarkan.
2. Disertai dengan mendengun.
3. Ada tekanan kira-kira 1 alif atau 2 harokat.
Contoh :
- أَئِنْ ذُكِّرْتُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
- وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنَ الْأَنْبَاءِ مَا فِيهِ مُزْدَجَرٌ

3. Idghom Mitsli ( atau idghom mi-mi )
Dikatakan idghom mitsli karena mim dalam bahasan ini juga bertemu dengan huruf yang semisalnya yaitu mim. Idghom artinya memasukkan Sehingga Idghom mitsli adalah
دمج الميم الساكنة بالميم ليصيرا ميماً واحدة مشددةً
Yaitu memasukkan huruf mim yang bersukun pada huruf setelahnya yang mana huruf tersebut sama(mim). Sedangkan disebut Idghom mi-mi karena dalam hal ini Cuma dibahas huruf mim bertemu dengan huruf mim itu sendiri. Berbeda dengan Idghom mitsli yang nanti cakupanya sangat luas yaitu semua huruf hijaiyah yang bertemu dengan sesamanya.
Contoh :
- وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
- فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ
4. Kesimpulan


BAB V
IDGHOM
Dalam bahasan Hukum nun dan mim mati sudah dijelaskan bahwa idghom berasal dari kata “ adghoma – yudghimu – idghooman “ yang berarti memasukkan. Artinya Idghom adalah Masuknya suara huruf pertama pada huruf setelahnya. Idghom terbagi menjadi tiga macam ; Idghom Mutajanisain, Idghom Mutaqoribain dan Idghom Mutamatsilain.

1. Idghom Mutajanisain
الا دغا م المتجا نسين هو ما اتحد مخرجا د ون صفة
Artinya adanya suatu huruf yang mati bertemu dengan huruf hidup yang keduanya sama dalam makhrojnya tetapi berbeda sifatnya. Dalam keterangan kitab yang lain ( Kitab al-Wajiz) ada sedikit tambahan yang mengatakan bahwa ighom Mutajanisain adalah Masuknya satu huruf ke dalam huruf setelahnya yang sejenis, Dalam hal ini terbagi menjadi dua :
a. تجانسا مخرجا، واختلفا صفة (Sama makhrojnya tapi berbeda dalam sifatnya)
- Contoh-Contoh Idghom Mutajanisain
a. د ketemu ت : قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
b. ت ketemu د : فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آَتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
c. ت ketemu ط : وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
d. ذْ ketemu ظ : وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ
e. ط Ketemu ت : لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ
f. ل Ketemu ر : قُلْ رَبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ

b. تجانسا صفة، واختلفا مخرجا (Sama sifatnya tapi berbeda dalam makhrojnya)
- Contoh :
a. د Ketemu ج : لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ
Dengan kata lain Idghom Mutajanisain adalah Masuknya suara huruf pertama pada huruf kedua yang mana kedua huruf tersebut sama makhrojnya tapi berbeda dalam sifatnya, atau sama dalam sifat tapi berbeda dalam makhrojnya.
- Hukum-hukum bacaan idghom mutajanisain :



Untuk lebih Memahami bahasan Idghom ini maka terlebih dahulu kami jelaskan tentang makhorijul huruf dan sifat-sifat huruf.
a. Makhhoriju Huruf
Makorijul huruf adalah tempat keluarnya huruf-huruf. Dalam hal ini ada lima bagian :
a) الجو ف
Yaitu huruf-huruf yang keluar dari Rongga atau lobang mulut,yang termasuk huruf Jauf adalah huruf-huruf mad yaitu ada tiga Alif, wawu dan ya’ ketika bersukun.
ئا ءو ئي
b) الشفتا ن
Yaitu huruf-huruf yang keluar dari dua bibir, yaitu م , و, ب
c) الحلق
Yaitu Huruf-huruf yang keluar dari tenggorokan, terbagi menjadi tiga:
Tenggorokan bawah yaitu أ dan ها
Tenggorokan tengah yaitu عdan ح
Tenggorokan atas yaitu خdan غ
d) الخيثو م
Yaitu huruf-huruf yang keluar dari hidung yaitu huruf-huruf ghunnah ( nun dan mim tasydid.
e) اللسا ن
Yaitu huruf-huruf yang keluar dari lisan. Dalam hal ini ada banyak pembagiannya,
- Pangkal lidah : ق ك
- Lidah bagian tengah ج ش ي:
- Tepi lidah :ض
- Lidah bagian depan :ل
- Ujung lidah : ن ر ت د ط ز س ص ث د ظ
- Bagian tengah bibir :ف

b. Sifat-Sifat Huruf
Secara bahasa Sifat adalah segala sesuatu memberikan ma’na yang berhubungan dengan watak, atau naluri. Sedang menurut arti terminology Sifat adalah
كيفية عارضة للحرف عند حصوله في المخرج من جهر، ورخاوة، وهمس، وشدة، ونحوها " “
Maksudnya, Sifat adalah Suatu cara bagaimana memunculkan suatu huruf dari tempatnya, semisal kencang, keras , lembut dan lain sebagainya. Ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah sifat-sifat huruf. Sebagian Ulama’ mengatakan bahwa sifat-sifat Huruf itu ada 17 seperti yang disampaikan oleh Al-Imam Ibnu Al-Jazary. Sebagian yang lain mengatakan bahwa sifat-sifat huruf itu berkisar sampai 44, pendapat ini disampaikan oleh Abu Muhammad Maki bin abi Tholib, dan masih banyak perselisihan pendapat akan jumlah sifat-sifat huruf tersebut. Secara garis besar Sifat Huruf terbagi menjadi 2, yaitu :
1. صفة لها ضد ( Sifat yang ada perlawanannya )
2. صفة ليس لها ضد ( Sifat yang tidak ada lawanya )

Diantara Sifat-sifat yang ada lawannya adalah sebagai berikut :
a. الهمس وضده الجهر
Menurut bahasa Al-hams mempunyai arti الخفاء artinya samar, artinya al-hams adalah sifat huruf yang apabila diucapkan ada desisan atau semisal nafas yang terlepas. Huruf-huruf الهمس ada 10 , yang terkumpul dalam lafadh فحثه شخص سكت
Sedang Al-jahr adalah انحباس جري النفس عند النطق بالحرف لقوة الاعتماد على مخرجه
Yaitu tertahanya Nafas / desisan ketika mengucapkan huruf-huruf yang ada. Huruf-huruf al-jahr adalah semua huruf selain huruf-hurufnya الهمس seperti ba’ , Jim , qof dan lain sebagainya.
b. الشدة وضدها الرخاوة
Menurut Etimologi asy-Syiddah berarti Al-Quwwah/ kuat. Sedang menurut istilah adalah انحباس جري الصوت عند النطق بالحرف لكمال قوة الاعتماد على مخرجه yaitu tertahannya keluarnya suara ketika mengucapkan huruf-huruf tertentu karena kuatnya huruf tersebut. Huruf-huruf الشدة ada 8 yang terkumpul dalam lafadh : "أجد قط بكت"
Sedangkan Ar-Rokhowah berarti lunak atau اللين artinya ar-Rokhowah atau ar- Rikhwah adalah جريان الصوت عند النطق بالحرف yaitu terlepasnya suara ketika keluar dari makhrojnya. Huruf-hurufnya adalah semua huruf selain hurf asy-syidah.
c. الإطباق وضده الانفتاح
Menurut bahasa Ithbaq berarti الإلصاق atau melekat, dengan kata lain, ithbaq berarti تلاصق ما يحاذي اللسان من الحنك الأعلى على اللسان عند النطق بالحرف artinya Ithbaq adalah melekatnya lidah/ lisan dengan langit-langit mulut yang atas ketika mengucapkan huruf tersebut. Huruf-huruf ithbaq ada 4 yaitu : الصاد، والضاد، والطاء، والظاء
Sedangakan Infitah adalah الافتراق terpisah/terbuka,sedang menurut arti istilah تجافي كل من طائفتي اللسان، والحنك الأعلى عند النطق بالحرف حتى يخرج الريح من بينهما artinya Infitah adalah terbukanya / merenggangnya lidah dari langit-langit mulut yang atas ketika mengucapkan huruf-hurufnya sehingga seolah-olah ada semacam angin/nafas yang keluar dari mulut. Huruf-hurufnya adalah semua huruf selain Hurufnya Ithbaq.
d. الإذلاق وضده الإصمات
Idzlaq berarti ujung ( pucuk=jawa) maksudnya Secara arti luas Idzlaq mempunyai pengertian سرعة النطق بالحروف المذلقة لخروج بعضها من ذلق اللسان أي:طرفه Maksudnya adalah semua huruf yang yang keluar dari ujung lidah, sehingga seolah-olah keluarnya huruf tersebut sangat cepat. Huruf-hurufnya terkumpul dalam lafadh “فر من لب “
Sedangkan al-ishmat adalah المنع / tertahan atau tercegah. Sedang menurut istilah منع حروفه من الانفراد بتكوين الكلمات المجردة الرباعية أو الخماسية Tertahannya suara-suara huruf, artinya huruf-huruf itu keluar dari tempatnya agak lamban.
e. الاستعلاء وضده الاستفال
Isti’la’ adalah ارتفاع اللسان إلى الحنك الأعلى عند النطق بالحرف maksudnya adalah naiknya atau terangkatnya lidah ke langit-langit mulut yang atas ketika mengucapkan huruf-hurufnya. Huruf-huruf Isti’la’ itu ada 7 yang terkumpul dalam lafadh : خص ضغط قظ
Sedang Istifal adalah انخفاض اللسان أي: انحطاطه عن الحنك الأعلى إلى قاع الفم عند النطق بالحرف Yaitu Turunnya atau mendasarnya Lidah ke dasar mulut ketika mengucapkan huruf-huruf tersebut. Huruf-huruf Istifal adalah emua huruf selain خص ضغط قظ
Sedangkan Difat-sifat huruf yang tidak ada perlawananya (ليس لها ضد ) itu ada 8 (delapan) :

a. الصفير
Menurut bahasa Shofir berarti صوت يشبه صوت الطائر yaitu suara yang menyerupai burung. Sedang Menurut Istilah adalah
صوت زائد يخرج من بين الشفتين يصاحب أحرفه الثلاثة عند خروجها yaitu Suara tambahan ( semisal seruit/siul ) yang keluar dari kedua bibir ketika mengucapkan huruf tersebut. Huruf-hurufnya ada 3 yaitu : الصاد، والسين والزاي

b. القلقلة
Menurut bahasa Qolqolah adalah الاضطراب والتحريك yaitu goncangan, gesekan, atau tahrik. Sedang menurut Menurut Istilah adalah
اضطراب المخرج عند النطق بالحرف ساكنا حتى يسمع له نبرة قوية yaitu goncangan suara huruf yang terjadi pada makhrojnya ketika huruf itu diucapkan dalam keadaan bersukun. Huruf-hurufnya ada 5 yang terkumpul dalam lafadh : قطب جد

c. اللين
Menurut bahasa adalah ضد الخشونة
Sedang Menurut Istilah إخراج الحرف في لين وعدم كلفة Mengeluakan huruf-huruf dengan cara melunakkanya, ( tidak ada paksaan/keberatan) Huruf-hurufnya ada 2 yaitu الواو، والياء ketika jatuh setelah fathah. Seperti contoh :
- فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ
- الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

d. الانحراف
Menurut bahasa adalah الميل Artinya condong,Sedang Menurut Istilah adalah
ميل الحرف بعد خروجه إلى مخرج غيره Yaitu Kecondonngan suatu pada makhroj yang lain ketika huruf itu dikeluarkan dari makhrojnya. Huruf-hurufnya adalah :
- اللام Yang condong pada makhroj lain ( ujung lidah )
- الراء Yang lebih condong ke dalam atau sedikit kearah lam.
e. التكرير
Menurut bahasa adalah إعادة الشيء مرة بعد مرة yang berarti Pengulangan . Menurut Istilah adalah
ارتعاد رأس اللسان عند النطق بالحرف artinya bergetarnya lidah ketika mengucapkan hurufnya. Antara lain hurufnya adalah الراء

f. التفشي
Menurut bahasa adalah الانتشار meluas atau tersebar.. Sedang Menurut Istilah
: انتشار الريح في الفم عند النطق بالشين yaitu tersebarnya suara/ angin ke seluruh mulut ketika mengucapkan huruf terebut. Yaitu huruf الشين

g. الاستطالة
Menurut bahasa adalah الامتداد yaitu memanjang. Sedang menurut istilah
امتداد الصوت من أول حافة اللسان إلى آخرها maksudnya adalah memanjangnya suatu suara
Mulai dari tepi lidah sampai pada penghabisanya ( bersambung dengan makhrojnya lam )

h. الغنة
Menurut bahasa adalah صوت في الخيشوم yaitu suara yang berkisar pada daerah hidung. Sedang Menurut Istilah adalah صوت لذيذ مركب في جسم النون والميم maksudnya adalah suara yang lembut,enak yang tersusun dalam huruf mim dan nun.

i. الخفاء
Menurut bahasa adalah الاستتار / tertutup. Sedang Menurut Istilah
خفاء الصوت عند النطق بالحرف
Maksudnya adalah samarnya suara-suara tertentu ketika mengucapkannya. Huruf-hurufnya diantaranya adalah huruf-huruf mad dan ditambah الهاء

2. Idghom Mutaqoribain
الا دغام المتقا ربين هو ما تقا رب مخر جا او صفة
Yaitu bertemunya satu huruf dengan huruf yang lain yang berdekatan dengan sifat atau makhrojnya.
Idghom mutaqoribain ada tiga macam :
1. متقاربين في المخرج والصفة
Yaitu bertemunya satu huruf dengan huruf lain dalam satu kalimat yang makhroj dan sifaatnya berdekatan.
Contoh :
- وَقُل رَّبّ
2. متقاربين في المخرج فقط
Yaitu bertemunya satu huruf dengan huruf lain dalam satu kalimat yang makhrojnya saja yang berdekatan.
Contoh :
- قَدْ سَمِعَ
3. متقاربين في الصفة فقط
Yaitu bertemunya satu huruf dengan huruf lain dalam satu kalimat yang sifaatnya saja berdekatan.
Contoh :
- بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ
Catatan : “ ta’ dan Syin” adalah dua huruf yang berdekatan sifatnya saja bukan makhrojnya.
Contoh-Contoh Idghom Mutaqoribain:
- ث ketemu ذ : إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
- ق ketemu ك : أَلَمْ نَخْلُقْكُمْ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ
- ب ketemu م : يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
Hukum Bacaan Idghom Mutaqoribaini :



3. Idghom Mutamatsilain
الادغا م المتما ثلين هو ما اتحد مخرجا و صفة
Artinya Idghom Mutamatsilain adalah Memasukkanya suara huruf tertentu ke dalam huruf yang semisalnya yang sama antara makhroj dan sifatnya.
Contoh-contoh Idghom Mutamatsilain :
- وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ
- فَلَا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كَانَ مَنْصُورًا
- وَإِذَا جَاءُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَقَدْ دَخَلُوا بِالْكُفْرِ
- أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ
- أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَى فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ
Macam-macam Idghom Mutajanisain



Kesimpulan :

BAB VI
AL ( ALIF DAN LAM )

Dalam ilmu nahwu Al ( alif dan lam ) terbagi menjadi beberapa macam. Diantaranya :
1. ال التعر يفية
Yaitu Al yang masuk pada isim nakiroh yang berfungsi mema’rifatkan kalimat isim tersebut.
Contoh kata رجل yang mempunyai arti orang laki-laki yang belum ada kejelasan siapa dia, kemudian dimasuki “ al “ sehingga menjadi الرجل yang bermakna orang laki-laki tapi tertentu.
2. ال الجنسية
dalam hal ini ada tiga macam yang telah dibahas dalam ilmu nahwu. Seperti al yang berada pada lafadh الحمد لله رب العا لمين
3. ال الزا ئد ة
Seperti dalam lafadh اللا ت و العز ي
4. ال العهد ية
Seperti dalam kalimat اليوم اكملت لكم
5. ال المو صو لة
Yaitu al yang mempunyai makna “ الدي “ seperti lafadh dalam contoh الضا رب بكرا زيد

Namun dalam ilmu tajwid kita dikenalkan dua macam “ al “ yaitu “ ال قمرية & ال شمسية “
a. ال القمر ية
Huruf-hurufnya ada 14 yang terkumpul dalam syi’ir “ ابغ حجك وخف عقيمة “
Contoh :
- وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
- وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ
- غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ
- ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
- وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا
- تِلْكَ آَيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ
- إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ
- وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
- أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
- وَالْعَصْرِ
- الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3)
- ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
- وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
- أَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ عَلَى الْهُدَى

b. ال الشمسية
Huruf-hurufnya adalah semua huruf hijaiyah selain di atas .
Contoh :
- اهْدِنَا الصِّرَاطَ
- إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ
- إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ
- إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ
- وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ
- وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ
- وَلَا الضَّالِّينَ
- وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
- وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ

BAB VII
MAD
Menurut arti Istilah mad adalah isim masdar dari fi’I “ madda-yamuddu – maddan “ yang mempunai arti panjang atau memanjangkan. Menurut sebagian Ulama’ mad juga mempunyai arti “ ziyadah “ yang artinya bertambah,hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Nuh ayat:12
“ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ”
Yang artinya :dan menambah harta-harta dan anak-anakmu dan menjadikan untuk kalian kebun-kebun dan sungai-sungai untuk kalian semua.
Sedang menurut istilah mad mempunyai pengertian memanjangkan suara suara suatu huruf dengan adanya huruf-huruf mad tetentu. Semua Ulama’ sepakat bahwa huruf mad hanya ada tiga yaitu :
- Wawu alif dan ya’ yang bersukun.
Mad terbagi menjadi dua :
a. Mad asli dan
b. Mad Far’i

A. Mad Asli
Atau sering disebut dengan istilah mad thobi’i. Mad asli adalah panjangnya suara suatu huruf tertentu karena adanya huruf mad thobi’I yang asli. Serta tidak bertemu atau bercampur dengan huruf-huruf sababul mad seperti hamzah dan sukun.
Mad thobi’I terbagi menjadi dua :
a) Mad thobi’I kilmi
Contoh :
- ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
- الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ
- فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ
b) Mad Thobi’I harfi
Mad thobi’I harfi mempunyai lima huruf yang terkumpul dakam lafadh “ حي طهر “
- Huruf ya’ dalam permulaan surat (مريم كهيعص و يس)
- Huruf Ha’ dalam permulaan surat ( غافر، فصلت، الشورى، الزخرف، الدخان، الجاثية، الأحقاف )
- Huruf Tho’ dalam permulaan surat (طه و الشعراء والقصص، و طس و النمل )
- Huruf Ro’ dalam permulaan surat (يونس، وهود، ويوسف، وإبراهيم، والحجر، و الرعد )
- Huruf ha’ dalam permulaan surat (مريم، وطه )

B. Mad Far’i
Macam-macam Mad Far’i
1. Mad Wajib Muttasil
Yaitu apabila ada huruf mad bertemu dengan hamzah dalam satu kalimat.
Panjang mad Wajib Mutasil :
- Menurut imam Hafsh adalah antara 2 atau 2,5 alif ? 4 atau 5 harokat
- Menurut imam Hamzah : 3 alif / 6 harokat
Contoh :
- إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
- يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ

2. Mad jaiz Munfashil
Yaitu apabila ada huruf-huruf mad bertemu dengan hamzah dalam dua kalimat.
Panjang Mad Jaiz Munfashil :
- Menurut Imam Hamzah : 6 harokat / 3 alif
- Menurut imam Hafsh : 4 harikat / 2 alif
Contoh :
- وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ
- قَالُوا مَا أَنْتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا

3. Mad Lazim
Yaitu apabila ada huruf mad bertemu dengan sukun.
Disebut mad Lazim karena beberapa alas an :
- للزوم سببه -وهو السكون
Yaitu karena tetapnya penyebab adanya mad tersebut yaitu sukun.
- للزوم مده ست حركات
Yaitu karena wajibnya panjang mad tersebut yaitu 6 harokat / 3 alif
- لالتزام جميع القراء مده ست حركات
Yaitu karena ketetapan seluruh ahli Qurro’ dalam hal panjang nya mad ini.
Mad lazim ada dua macam :
1. Mad Lazim Kilmi
2. Mad Lazim Harfi
Dan dari masing-masing bagian juga terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Mutsaqqol
2. Mukhoffaf

Jadi secara garis besar mad Lazim terbagi menjadi 4 (empat) macam :
1) Mad Lazim Kilmy Mutsaqqol
Yaitu adanya huruf mad yang bertemu dengan sukun yang tetap ( lazim ) dalam suatu kalimat serta diidghomkan. Contoh :
- غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
- قَالَ أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ
- الْحَاقَّةُ (1) مَا الْحَاقَّةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّ

2) Mad Lazim Kilmy Mukhoffaf
Yaitu adanya huruf mad yang bertemu dengan sukun yang tetap ( lazim ) dalam suatu kalimat dengan tanpa diidghomkan. Contoh :
- آلآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ
- آلآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ

3) Mad Lazim Harfy Mutsaqqol
Yaitu adanya huruf mad yang bertemu dengan sukun yang tetap ( lazim ) dalam suatu huruf hijaiyah tertentu dengan disertai dengan idgom. Disebut harfi karena adanya mad yang bersamaan dengan sukun tersebut. Contoh :
- Lam dalam ayat : المص
- sin dalam ayat : طسم

4) Mad Lazim harfy Mukhoffaf
Yaitu adanya huruf mad yang bertemu dengan sukun yang tetap ( lazim ) dalam suatu huruf hijaiyah tertentu dengan tanpa disertai pengidgoman.
Contoh :
- Shod dalam Ayat : المص
- Lam dalam ayat : الر
- Qof dalam ayat : ق وَالْقُرْآَنِ الْمَجِيدِ
- Mim dalam ayat : حم dan الم

4. Mad ‘Aridli Lissukun
Yaitu apabila ada huruf mad bertemu dengan sukun yang baru yang disebabkan oleh adanya waqof. Disebut “ ‘aridl “ karena adanya mad ini dikarenakan adanya sukun yang baru akibat waqof.
Contoh :
- بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
- وَالْقُرْآَنِ الْحَكِيمِ (2) إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ (3) عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (4)
- قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3)
Panjang Mad ‘Aridli Lissukun adalah Conditional, artinya boleh 1 alif boleh 2 alif dan boleh 3 alif. Jika dalam bacaan mad sebelumnya 1 alif maka Mad ‘aridl selanjutnya juga 1 alif, begitu pua jika 2 atau 3 alif.
Dalam kitab “ Al- Wajiz “ dijelaskan lebih luas lagi tentang Hukum-hukum bacaan Mad ‘Aridli Lis-sukun, diantaranya :
1. Jika dalam keadaan/posisi Nashob, maka mempunyai tiga wajah :
a. القصر
Yaitu berkisar antara 2 harokat / 1 alif
b. التوسط
Yaitu berkisar sekitar 4 harokat / 2 alif
c. المد
Yaitu berkisar sekitar 6 harokat / 3 alif
Contoh :
- عَلَّمَ الْقُرْآَنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Keterangan : kaata yang bergaris bawah dalam ilmu nahwu itu behukum Nashob karena berkedudukan sebagai maf’ul bih ( obyek/sasaran) sehingga dalam membacanya ada 3 wajah yaitu boleh dibaca 1 alif , 2 alif , 3 alif

2. Jika dalam keadaan jer / khofdl. Maka mempunyai empat wajah :
a. القصر
b. التوسط
c. المد
d. الروم مع القصر
Contoh :
- الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Keterangan : Kata yang bergaris bawah dalam ilmu Nahwu wajib dibaca Jer karena sebagai mudlof ilaih, dan berkedudukan sebagai nashob. Sehingga dalam membacanya mempunyai 4 wajah seperti yang diterangkan di atas.

3. Jika dalam keadaan rofa’ maka mempunyai tujuh wajah
a. القصر
b. التوسط
c. المد
d. المد مع السكون المحض
e. مع الإشمام المد
f. الروم مع القصر.
Contoh :
- إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
- الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ
Kata yang bergaris bawah adalah berhukum Rofa’ karena merupakan fi’il mudlore’ yang sunyi dari amil nawashib dan amil jawazim.

5. Mad Badal
Yaitu apabila ada huruf mad bertemu dengan hamzah. Disebut mad badal karena hamzah tersebut diganti dengan mad ( huruf mad )
Panjang bacaan mad Badal adalah 2 harokat / 1 alif.
contoh :
- وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ
- يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
Asal contoh tersebut adalah : أأمنوا dan ااتينا

6. Mad Tamkin
Yaitu apabila ada huruf mad bertemu dengan sepadannya. Artinya adahuruf mad wawu bertemu wawu dan huruf mad ya’ bertemu dengan ya.
Panjang bacaan Mad Tamkim adalah 2 harokat / 1 alif.
Contoh :
- الدين امنوا وعملوالصالحات
- نبيين

7. Mad Lin/mad Len
Yaitu apabila ada huruf mad yang didahului oleh fathah yang bertemu dengan sukun yang baru( waqof )
Panjang mad Len adalah sama seperti panjangnya mad ‘Aridli Lissukun yaitu 1 / 2 / 3 alif atau 2 / 4 / 6 harokat.
Contoh ;
- الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
- اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
8. Mad Shilah
Yaitu memenjangnya suara mad ketika ada Dlomir ( Ha’) yang diapit dua huruf sebelum dan sesudahnya yang berharokat.
Mad Shilah ada dua macam :
a. Mad Shilah Thowilah
Yaitu memanjangnya Suara Mad pada Dlomir (ha’) yang setelahnya bertemu dengan hamzah.
Contoh :
- وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ
- مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
b. Mad Shilah Qoshiroh
Yaitu Memanjangnya Suara mad pada dlomir (ha’) yang setelahnya tidak bertemu dengan hamzah.
Contoh :
- لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
- لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
9. Mad Farqi
Memanjangnya Suara mad ketika ada Hamzah bertemu dengan hamzahnya al ( ال ) kemudian hamzahnya “ al “ tersebut dipanjangkan ( diganti alif .
Contoh :
- أالله
- أاسحر
- أالئن
10. Mad ‘iwadh
Secara lafdhi, kata “ ‘iawdl” mempunyai pengertian mengganti atau ganti. Sehingga bisa ditarik kesimpulan bahwa mad Iwadl adalah Memanjangnya suara kalimat akibat adanya penggantian sebuah tanwin fathah ketika diwaqofkan.
Panjang Mad ‘Iwadl adalah : 1 alif / 2 harokat
Contoh :
- وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا
- لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا
- إِنَّا أَنْشَأْنَاهُنَّ إِنْشَاءً
Kesimpulan :




BAB VIII
WAQOF
1. Pengertian Waqof
Berbicara al-qur’an tidak akan terlepas dari tajwid, dan berbicara soal tajwid tidak akan lepas dari waqof dan qotho’. Menurut bahasa Waqof mempunyai arti “ al Kaffu “ yaitu menahan. Sedangkan menurut istilah adalah
“عبارة عن قطع الصوت على الكلمة زمنا يتنفس فيه عادة بنية استئناف القراءة، فلا بد من التنفس معه “
Yaitu sebuah ungkapan atas putusnya suara kalimat dalam satu waktu tertentu.

2. Pembagian Waqof
- Berdasarkan alasan atau penyebab berhentinya, Waqof terbagi menjadi 4, yaitu :
a. Waqof Idlthirori
وهو ما يعرض بسبب ضيق النفس، ونحوه كعجز ونسيان
Yaitu Berhenti yang disebabkan karena keterpaksaan, seperti pendeknya nafas atau karena lupa, atau karena tidak kuatnya meneruskan bacaannya.
Contoh : berhenti di tengah-tengah ayat ( pada kata “ Ash-Shiyam)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Kemudian dilanjutkan dengan mengulangi sebagian ayat yang telah dibaca.

b. Waqof Intidhori
وهو أن يقف القارئ على كلمة ليعطف عليها غيرها حين جمعه للقراءات
Artinya berhenti karena menunggu, dengan kata lain si qori’( orang yang membaca) behenti pada suatu kata yang dianggap penting untuk dipelajari karena ada banyak perbedaan dalam membacanya, kemudian melanjutkan bacaanya lagi setelah selesai menghimpun kata tersebut.
Contoh : berhenti di tengah-tengah ayat ( pada kata “ maliki “) karena adanya pebedaan dalam membacanya. Ada yang membaca pendek dan ada yang membaca panjang.
“الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ “
$0D
c. Waqof Ikhtibari
وهو ما كان الغرض منه اختبار الشخص وامتحانه، ويتعلق بالرسم كالمقطوع، والموصول، والثابت، والمحذوف، ولا يوقف عليه إلا إجابة لسؤال ممتحن، أو لتعليم القارئ كيف يقف إذا اضطر للوقف
Artinya berhenti dengan tujuan menguji atau karena diuji. Semisal guru menguji si Qori’ dalam kalimat yang maqthu’,maushul,itsbat atau mahdzuf. Seperti contoh si Guru menguji Qori’ katika membaca kata “ اين “ dalam surat an-nisa’ ayat : 78
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَة ……………

d. Waqof Ikhtiyari
وهو أن يقصد لذاته من غير عروض سبب من الأسباب
Artinya Berhenti dalam bacaan yang telah dimaksud, yang tidak alasan atau sebab-sebab seperti di atas. Artinya si qori’ menghentikan bacaannya pada suatu kata yang sudah bisa dipahami.
Waqof Ikhtiyari ada 4 macam :
1. Waqof Tam
هو الوقف على كلمة لم يتعلق ما بعدها بها، ولا بما قبلها لا لفظا ولا معنى،
Tam berarti sempurna. Maksudnya Waqof tam adalah berhenti pada suatu kalimat yang sudah sempurna yang tidak ada hubungannya dengan kalimat setelahnya baik dalam hal lafadhnya ataupun dalam hal ma’nanya.
Contoh : berhenti pada akhir ayat ke-4 dalam surat Al-fatihah :
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
Keterangan : ayat ke-1 , 2, 3 dan 4 masih sangat berhubungan dalam hal ma’nanya. Sehingga berhenti yang paling sempurna adalah pada ayat ke-4 karena antara ayat ke-4 sudah tidak ada hubunganya dengan ayat setelahnya.

2. Waqof Kafi
هو الوقف على كلمة لم يتعلق ما بعدها بها، ولا بما قبلها لفظا، بل معنى فقط
Kafi berarti cukup artinya sudah cukup bisa dipahami, namun masih belum sempurna, maksudnya Waqof kafi adalah berhenti pada kalimat yang yang sudah bisa dipahami ( sudah bisa disebut kalam) dan lafadhnya sudah tidak berkaitan dengan ayat setelahnya namun dalam pema’na-an masih terkait.
Contoh : berhenti pada lafadh خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ
Yang secara kalam sudah bisa dipahami namun dalam hal ma’na masih sangat terkait dengan lafadh setelahnya.

3. Waqof Hasan
هو الوقف على كلمة تعلق ما بعدها بها، أو بما قبلها لفظا ومعنى، بشرط إفادته معنى يحسن السكوت عليه
Secara bahasa Hasan mempunyai ma’na baik,bagus. Artinya Waqof Hasan adalah berhenti pada lafadh yang sudah bisa dipahami( mufid) / bisa member kefahaman pada si pndengar, namun kalimat dan kesempurnaan ma’nanya masih ada hubunganya dengan lafadh setelahnya.
Contoh : berhenti pada kata “الْحَمْدُ لِلَّهِ “
Keterangan : Secara ma’na kata tersebut sudah mufid, namun secara lafadh dan kesempurnaan pemahaman lafadh tersebut masih terkait dengan kalimat setelahnya.

4. Waqof Qobikh
هو الوقف على لفظ غير مفيد، وقد تعلق ما بعده بما قبله لفظا ومعنى
Menurut bahasa Qobikh berarti tidak baik, jelek atau buruk. Maksudnya Waqof Qobikh adalah berhenti pada lafadh yang belum bisa dimengerti/dipahami dan masih terkait dengan lafadh sebelum dan sesudahnya.
Contoh berhenti pada kata بِسْمِ dari ayat بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم ِ
Atau berhenti pada lafadh الْحَمْدُ dari ayat الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ..
3. Tanda-tanda Waqof
a. م = لا زم artinya harus / wajib berhenti.
b. لا = ممنو ع mempunyai beberapa pengertian :
- Tidak boleh berhenti
- Boleh berhenti jika Dlorurot dengan catatan harus mengulang sebelumnya.
- Boleh berhenti jika di akhir ayat.
c. ج = جا ئز artinya boleh berhenti dan boleh terus.
d. قلي = الوقف اولي artinya brhenti lebih baik, lebih utama daripad washol (terus) akan tetapi washol pun tidak apa-apa.
e. صلي = الوصل اولي artinya washol (terus) lebih baik daripada berhenti. Akan tetapi berhenti pun tidak apa-apa.
f. ط = مطلق Mutlaq artinya tidak ada masalah jika washol’ akan tetapi berhenti lebih utama daripada terus. ( artinya tidak ada khilaf )
g. ز = جوا ز artinya boleh berhenti tapi terus lebih baik.
h. ص = مرخص Boleh berhenti tapi terus lebih baik.
i. ق = قيل الوقف Sebagian pendapat mengatakan bolehnya berhenti jika dalam suatu kalimat ada waqof tersebut, namun terus adalah yang lebih baik ( artinya tidak ada khilaf dalam hal uatamnya )
j. وقف = وقف artinya berhenti itu baik, akan tetapi terus ( washol ) pun tidak apa-apa.
k. س = سكتة artinya ada baiknya berhenti namun tanpa adanya brnafas. Namun jika washol tidaklah apa-apa.

BAB IX
TAFKHIM DAN TARQIQ
Setelah kita membahas macam Sifat-sifat huruf dalam bab Idghom kini dalam buku kecil ini akan kami tutup dengan pembahasan tentang “tafkhim dan tarqiq”. Sengaja penulis memisahkan dan mengakhirkan bahasan ini karena pembahasan ini ada pemisahan tersendiri. Akan tetapi pada dasarnya bahasan ini sangat erat sekali hubungannya dengan sifat-sifat huruf. Hanya saja ada sedikit perbedaan yang sangat mendasar, kalo sifat huruf adalah sifat yang murni dari huruf tersebut sedangkan dalam bahasan ini adalah sifat yang “ ‘aridl / عارض " yaitu sifat yang baru yang muncul karena sebab-sebab tertentu.
1. Tafkhim dan Tarqiq
Dalam bahasa arab Tafkhim mempunyai ma’na tebal atau gemuk, artinya tebalnya suara pada huruf tertentu yang menggemahkan mulut dan mengangkat lisan/lidah ke langit-langit atas mulut. Sedangkan tarqiq adalah kebalikan dari tafkhim artinya kurus atau menipis.
Dalam bahasan Huruf hijaiyah jika dikaitkan dengan tafkhim dan tarqiq secara garis besarnya terbagi menjadi tiga macam :
1. حروف تُفَخَّم بصفة دائمة
Artinya Huruf-huruf yang selamanya dibaca tafkhim / tebal. Dalam hal ini adalah semua Huruf Isti’la’ (الطاء والضاد والظاء والصاد والقاف والغين والخاء) . ketafkhiman huruf ini terbagi menjadi beberapa tingakatan :
a. المرتبة الأولى: وهي أعلى التفخيم
Tingkatan ini adalah tingkatan yang paling tinggi ketafkhimanya, hal ini apabila huruf isti’la’ tersebut berharokat fathah dan setelahnya ada alif. Contoh : الطَّامَّة ، الضَّالِّيْن ، الظَّانِّيْن ، الصَّابِرِيْن ، القَارِعَة ، الغَافِلِيْن ، والخَائِنِيْن
b. المرتبة الثانية: وهي أقل قوةً من الأولى
Tingkatan ketafkhimanya masih dibawah tingkatan yang pertama, hal ini jika huruf-huruf isti’la’ itu berharokat fathah dan setelahnya tidak ada alif. Contoh : طَبَعَ ، ضَرَبَ ، ظَلَمَ ، صَبَرَ ، القَتْل ، غَيْر ، وخَبِيْر
c. المرتبة الثالثة: وهي أقل قوةً من الثانية
Tingkatan ini lebih rendah lagi daripada no.2, yaitu jika hruf-huruf isti’la’ itu berharokat dlommah, baik sesudahnya ada huruf wawu ataupun tidak ada. Contoh : اضْطُرَّ ، ضُرِبَ ، ظُلِمَ ، صُرِفَتْ ، فَقُولُوا ، غُرْفَة ، خُذْ
d. المرتبة الرابعة: وهي أقل قوةً من الثالثة
Tingkatan ini lebih rendah lagi dari no.3, yaitu jika huruf-huruf isti’la’ itu disukun. Contoh : أطْوَارَاً ، إِضْرِبْ ، أَظْلَم ، واصْبِرْ ، بِمِقْدَار ، تَغْرُب ، أُخْرُج
e. المرتبة الخامسة: وهي أقل قوةً من الرابعة
Tingkatan ini adalah yang paling rendah ketafkhimanya, yaitu jika huruf-huruf isti’la’ itu berharokat kasroh. Contoh : يُطِعْ ، ضِيَاء ، ظِلاً ، خَصِيْمَاً ، قِيْلَ ، وَغِيْضَ ، دَاخِرِين

2. حروف تُرَقَّق بصفة دائمة
Artinya Semua Huruf yang selamanya dibaca tarqiq / tipis, dalam hal ini adalah semua huruf selain isti’la’ dan selain “ lam , ro’ dan alif “
3. حروف تُفَخَّم أحياناً وتُرَقَّق أحياناً أخرى
Artinya huruf-huruf yang sewaktu-waktu bersifat tafkhim dan pada suatu waktu bersifat tarqiq/tipis. Yaitu huruf “ lam , ro’ dan alif”

2. Lam dan Ro’
a. Hukum Lam
Lam dalam kalimat mempunyai dua hukum bacaan:
1. Tafkhim/tebal
Yaitu Lam pada posisi berikut :
a. Lam pada lafadh jalalah yang didahului oleh fathah, contoh : شَهِدَ الله
b. Lam pada lafadh jalalah yang didahului oleh dlommah, contoh : فَزَادَهُمُ اْلله
2. Tarqiq/ tipis
Yaitu lam pada :
a. semua kalimat dalam al-Qur’an (selain lafadh jalalah di atas)
b. pada lafadh jalalah yang sebelumnya didahului kasroh,contoh : بالله ، رِضْوَانِ الله
b. Hukum Ro’
Ro’ dalam kalimat mempunyai 3 hukum :
1. Tafkhim/tebal
Dalam hal ini ada 4 tingkatan :
a. Paling tinggi ketafkhimannya
Yaitu apabila Ro’ berharokat fathah dan setelahnya ada alif, contoh : رَاضِيَة ، الرَّاحِمِيْن
b. Ketafkhimanya Lebih rendah dari yang no.1
Yaitu apabila Ro’ dalam keadaan berikut :
- Ro’ berharokat fathah dan setelahnya tidak ada alif, contoh : رَبَت ، الرَّحمن
- Ro’ disukun dan sebelumnya berharokat kasroh, contoh : مُزْدَجِر
- Ro’ disukun dan sebelumnya ada alif mad, contoh : النَّارْ ،الغَفَّارْ
- Ro’ disukun dan sebelumnya ada huruf yang bersukun dan sebelumnya lagi berharokat fathah, contoh : وَالفَجْرْ.ولَيَالٍ عَشْرْ
c. Ketafkhimanya Lebih rendah dari yang no.2
Hal ini apabila Ro’ :
- Disukun dan sebelumnya berharokat kasroh yang ‘aridl(baru) contoh : ارْجِعِي ، ارْحَمْهُمَا
- Ro’ disukun dan sebelumnya berharokat kasroh asli dan setelahnya ada huruf isti’la’ yang berharokat selain kasroh , contoh : قِرْطَاس ، مِرْصَاد
d. Paling rendah ketafkhimannya.
Yaitu Ro’ dalam keadaan berikut :
a. Ro’ berharokat dlommah dan setelahnya ada wawu, contoh : الرُّوْم ، بِرُوْحِ
b. Ro’ berharokat dlommah tapi setelahnya tidak ada wawu, contoh : رُبَمَا ، رُحَمَاء
c. Ro’ bersukun dan sebelumnya berharokat dlommah, contoh : مُرْتَاب ، مُرْسَاهَا
d. Ro’ bersukun dan setelahnya ada wawu mad, contoh : غَفُورْ ، كَفُورْ
e. Ro’ bersukun dan sebelumnya ada sukun dan huruf sebelumnya lagi berharokat dlommah , contoh : صُفْرْ ، كُفْرْ
2. Tarqiq/tipis
Ro’ dibaca tarqiq dalam keadaan berikut :
a. Ro’ berharokat kasroh dan setelahnya tidak ada ya;,contoh : الغَرِمِين
b. Ro’ berharokat kasroh dan setelahnya ada ya’ ,contoh : تَجْرِي
c. Ro’ bersukun yang jatuh setelah kasroh dan setelahnya tidak ada huruf Isti’la’. Contoh : فِرْعَوْن
d. Ro’ bersukun dan sebelumnya ada ya’ mad, contoh : قَدِيرْ ، بَصِيرْ
e. Ro’ bersukun dan sebelumnya ada ya’ len, contoh : خَيْر ، ضَيْر
f. Ro’ bersukun yang sebelumnya juga ada sukun yang didahului kasroh, contoh : حِجْرْ، السِّحْرْ
g. Ro’ berharokat fathah yang seteahnya ada alif Imalah. Dalam hal ini Cuma ada satu contoh yaitu dalam surat Hud ayat:41 .بِسْمِ الله مَجْرَاهَا وَمَرْسَاهَا...
3. Boleh tafkhim boleh tarqiq
Ro’ mempunyai dua wajah apabila dalam posisi berikut :
a. Ro’ bersukun dan sebelumnya ada huruf isti’la bersukun yang jatuh setelah kasroh, contoh : مِصْر ، القِطْر
b. Ro’ bersukun, sebelumnya didahului kasroh dan setelahnya ada huruf Isti’la’ yang berharokat kasroh, contoh : فِرْقٍ
c. Ro’ bersukun karena sebab waqof dan berharokat kasroh ketika washol, contoh : يَسْرِ،نُذُرِ

الي هنا بتوفيق الله و انا يته تم هدا الكتا ب






KEPUSTAKAAN

1. Al-Qur’an Al-Karim
2. Pokok-pokok Ilmu tajwid, oleh Moh Bashory ‘Alawi
3. Al-Waqfu wa al-Ibtida’. Al-Hajj Moh Bashory
4. Miftahus As-Suhulah . oleh Moh Yahya Husnan
5. Al-Wajiz Fi ‘Ilmi at-Tajwid
6. Matan al-Jazariyyah . oleh Syamsuddin
7. Hidayatul Mustafid . oleh Muh Mahmud
8. Ahkamu at-tajwid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar